Senin, 19 Oktober 2009

MOZAIK _ SOPIR BOSS




Dari bagian 1

Peristiwa Kedua,
SOPIR BOSS


Pesta ulang tahun istri boss telah usai. Para undangan sebagian menuju mobil mereka untuk pulang, sebagian lain lagi menunggu supir masing-masing berdiri di kanopi rumah boss. Dengan ditemani istri boss aku menunggu suamiku yang saat ini masih terlihat bicara serius dengan boss serta staff direksi yang lain. Beberapa saat kemudian kulihat suamiku bersama boss mendekat ke aku. Boss yang bicara padaku,
"Maaf Bu Dibyo, Pak Dibyo saya tahan karena ada yang perlu dibicarakan untuk pertemuan dengan pengusaha Jerman besok. Ibu biar diantar Tarjo supir saya pulang lebih dahulu. Nggak apa-apa ya Bu, maaf nih", demikian permintaan maaf boss Mas Dibyo yang nggak mungkin aku sanggah lagi sebagaimana kebiasaan di lingkungan kantor kami.
Ada kebanggaan bahwa suamiku, Mas Dibyo, merupakan staff inti yang selalu dibutuhkan pada saat-saat kritis seperti ini, tetapi aku sudah terlampau banyak dikorbankan untuk hal-hal seperti ini.

Kebetulan aku meraih "door prize" saat istri boss mengundi nomer urut tamu malam ini. Lumayan aku dapat flat TV 21 inchi yang bisa aku pasang di kamar tidurku nanti. Mobil BMW 650i yang super mewah berhenti di latar kanopi begitu boss usai bicara padaku. Tarjo sang supir bergegas mengambil dooz besar TV-ku dan membukakan pintu kursi belakang untukku.

"Selamat malam, Bu. Wah rupanya Pak Dibyo bisa sampai malam hari ini, Bu. Soalnya saya dengar rombongan pengusaha Jerman itu minta bapak untuk membuat draft LOI (maksudnya, Letter of Intent) untuk besok pagi". Begitu Tarjo memberikan selamat malam padaku dan menyampaikan informasi mengenai tugas Mas Dibyo hasil dari nguping pembicaraan bossnya.

Sampai di rumah aku turun lebih dahulu untuk membuka pintu dan menyalakan lampu ruang depan. Tarjo mengangkat dooz TV ke dalam rumah. Saat itu terpikir alangkah baiknya kalau Tarjo bisa sekalian membantu membongkar TV-nya dan menaruh di kamar tidurku. Dengan senang hati dia melakukan permintaanku. Boss sudah nggak nunggu saya lagi kok Bu, jadi saya bisa bantu ibu sebentar, begitu jawabnya. Saat itu kuperhatikan matanya begitu berbinar setiap aku ngajak omong. Dia tidak hanya memperhatikan bibirku yang bicara tetapi juga gaun malamku yang menampakkan bahuku yang terbuka, belahan buah dadaku, pinggulku. Aku sudah terbiasa menghadapi pandangan mata lelaki macam itu, tetapi mestinya bukan kelasnya Tarjo. Aku merasakan bahwa sebagai lelaki Tarjo pasti juga tergerak birahinya melihat perempuan seperti aku, itu jelas dari cara matanya memandangku. Aku mafhum.

Tarjo dengan cepat dan cekatan melaksanakan permintaanku. Nampaknya dia ingin benar-benar membuat aku senang. Dan sebagai terima kasihku kubuatkan minuman saat selesai memasang TV di kamar tidurku. Sementara dia minum aku masuk kamar untuk ganti baju.

Aku sedang membuka blus setengah dadaku yang tanpa kancing melalui kepalaku ketika tiba-tiba aku mendengar langkah kaki Tarjo memasuki kamarku dan sama sekali tak kuduga ketika dia memelukku dengan kuat dan langsung menciumi ketiakku. Aku berteriak tertahan karena malu kalau sampai kedengaran tetangga, sementara mukaku masih tertutup oleh blusku sehingga aku tidak melihat apa-apa di sekelilingku. Dengan sigap tangan kuat Tarjo membekap mulutku dari balik blusku,
"Jangan teriak, Bu. Malu khan kalau kedengaran tetangga. Saya nggak tahan nih Bu. Kepingin ngentot ibu sejak berangkat dari rumah boss tadi. Sebentar saja, Bu". Gaya bicara Tarjo yang demikian tenang sangat membuatku jengkel dan marah. Sepertinya dia biasa melakukan hal begini kepada orang lain. Dasar begundal gila kamu, Jo.

Aku berontak dan jatuh ke ranjang tertindih tubuh Tarjo yang terus merangsek ketiak dan bagian tubuhku yang lain. Aku mulai ketakutan Tarjo akan memperkosa aku. Nggak mungkin dia berbuat begitu padaku yang istri atasan dia juga. Tetapi teriakkan dan berontakku rasanya sia-sia. Dia terlampau kuat buat aku. Dengan mudah Tarjo meringkus aku. Mulutku disumpal dengan sapu tanganku yang dia raih dari meja toiletku. Tanganku dia ikat kuat-kuat pakai tali rafiah bekas pengikat TV ke kisi-kisi ranjangku. Sementara kakiku ditahan dengan tubuhnya dengan kuat.

Aku terus berusaha berontak dengan tubuhku yang masih bebas untuk menggeliat menolak muka Tarjo yang nyungsep ke dadaku yang hanya tinggal memakai BH. Kakiku juga masih berusaha melawan kendati tubuhnya sangat kuat menindihku. Aku mulai berpikir kalau aku bisa menendang selangkangannya pasti Tarjo akan kesakitan. Tetapi aku nggak mampu. Bahkan tangan kanan Tarjo yang telah menyingkap gaun malamku mulai menarik-narik celana dalamku. Aku mulai menangis putus asa. Bagaimanapun nafsu jahat Tarjo akan kesampaian juga.

Dengan menangis ini Tarjo jadi tahu bahwa perlawananku tinggal separoh, selebihnya tinggal keputus asa-an dan penyerahan tubuhku yang siap untuk melampiaskan nafsu binatangnya. Hal ini membuat Tarjo menjadi lebih gila dan mulai melepasi ikat pinggang kemudian memerosotkan celana panjangnya hingga ke pahanya. Aku memang semakin putus asa saat kurasakan Tarjo berhasil menarik melepasi celana dalamku kemudian menguakkan selangkanganku dan menenggelamkan wajahnya ke kemaluanku. Dia merangsek menciumi dan menyedoti nonokku. Aku tak bisa membayangkan lagi bagaimana perasaanku waktu itu. Kemaluanku yang berbulu tipis dengan bibir vaginanya yang sangat ranum dilumat-lumatnya yang terkadang sambil melepaskan gigitan-gigitan kecilnya.

Cukup puas menggarap kemaluanku kini wajah Tardjo merangkaki perutku. Dengan bibirnya yang terus menjilati dan menyedoti tangan-tangannya melepasi BH-ku dan membetot keluar payudaraku yang memang sangat menggunung dan pasti menimbulkan nafsu birahi Tardjo yang makin kesetanan ini. Kemudian dari jilatan dan sedotan di perutku bibirnya bergerak cepat beralih mengenyoti dengan sangat ganas buah dadaku yang sudah keluar dari BH yang sudah berantakkan ikatannya.

Dan di bawah sana kurasakan benda keras yang aku pastikan adalah kontolnya mulai didorong-dorongkannya ke lubang vaginaku. Aku semakin benar-benar tidak melihat jalan keluar lagi. Aku dilanda kecemasan dan ketakutan yang amat sangat. Aku menjadi lumpuh dengan penuh sakit di hatiku. Aku terus menangis. Sopir gila ini benar-benar akan memperkosa aku. Edan. Gila. Benar-benar anjing kamu, Tarjo.

Tetapi Tardjo ternyata sangat professional untuk merubah penolakanku menjadi penantianku. Dengan bertumpu pada lumatan, isepan dan gigitan pada payudara dan pentil-pentilku yang sangat intens, Tardjo mengembangkan variasi remasan dan rabaan pada bagian-bagian tubuhku yang paling sensitive. Terkadang jarinya seakan mencakar kasar untuk kemudian berubah mengelus lembut. Aku dipermainkan oleh gelombang sentuhan erotisnya. Aku tergiring untuk memasuki wilayah peka birahi yang demikian dahsyat. Aku nggak habis pikir, terkadang aku dibuatnya menunggu, apa lagi dan yang mana yang akan dirambah rabaannya. Dan itu merupakan siksaan yang paling aku benci. Menunggu Tardjo, menunggu rabaannya, sementara lidah dan bibirnya terus menggelitik payudara dan pentilku dengan disertai dengusan serta lenguhan nikmat yang sangat merangsang iba birahi siapapun yang mendengarnya. Rasanya dalam waktu yang singkat kini beralih aku yang terlanda kehausan. Birahiku seakan tercambuk untuk mendera nafsu libidoku. Ayoo, Tardjoo, cepatt.. yang mana lagi.., ayoo, kurang ajar benar sih, kamu..

Aku ngap-ngapan mengejar nafasku karena perbuatan Tardjo ini. Kini situasinya jadi berbalik. Kini aku yang justru menginginkan Tardjo dalam arti sesungguhnya untuk memperkosa aku habis-habisan. Kini aku berubah menjadi hewan betina yang menunggu dilahap rakus jantannya.

Dan ketika akhirnya kurasakan ujung kontol Tarjo mendesaki gerbang vaginaku. Bibir vaginaku kurasakan menebal dan menjadi sangat peka terhadap sentuhan. Aku sangat berharap kontol Tardjo cepat menembusi nonokku. Aku goyangkan pantatku naik turun dan berputar cobek untuk menjemput dan menangkap batangan kontol Tardjo. Aku sudah demikian kegilaan menunggunya. Oohh.., Mas Dibyoo, maafkan aku, ini bukan salahku, mass.. Kenapa kamu nggak pulang mengantar aku dulu kemudian kembali dengan urusan pekerjaanmu, demikian aku menangisi nasibku. Dan Tarjo mulai dan terus mengocok-ocokkan kontolnya secara intensif ke liang kemaluanku.

Dan saat akhirnya vaginaku menelan seluruh batangan kontol itu, wwuuhh.. Aku dilanda gelinjang nikmat yang sangat dahsyat. Kini aku mendesah dengan hebatnya. Dan lebih konyol lagi, kegatalan pada nonokku terus memaksa pantatku bergoyang naik turun untuk menjemput kontol Tarjo agar menembusi lebih dalam lagi, dan bergoyang seperti "ngebor", memutar pantat ke kanan dan ke kiri agar memekku bisa melumat batang kontol untuk menggaruk dinding vaginaku yang nggak mampu aku tahan lagi rasa gatalnya. Dan inilah yang diharapkan Tarjo sebagai tanda telah mampu menundukkan aku. Oocchh, ampuni aku Mas Dibyoo..

Kini Tarjo merasa tidak perlu terlampau ketat menahan meringkus aku. Bahkan dengan penuh keyakinan sumpal di mulutku dilepasnya. Tarjo tahu aku telah berada di wilayah kenikmatan birahiku dan tak akan mungkin berteriak-teriak yang membuat kehilangan kenikmatan itu. Kontolnya mulai dipompakan secara teratur dan cepat menembusi nonokku. Dan cairan birahiku tak lagi bisa menyembunyikan hadirnya nafsu birahiku itu.

"Bu, enhak sekali ya, Bu .., Bu enhaakk, yaa..", racau Tardjo sambil menahan birahinya yang sudah demikian tak terkendali. Tetapi ucapan Tarjo itu sama sekali tidak salah. Aku memang merasakan enak dan nikmatnya pemerkosaan ini. Bahkan kini aku benar-benar menggoyang-goyangkan pantatku karena kenikmatan yang menimpa diriku. Dan racauan mulutku mengalir menyahuti menyemangati racauan Tarjo,
"Teruzzss Mas Tarjo.., terusszz.., enhhaakk.., terusszzhh..".

Semua menjadi serba cepat. Genjotan kontol Tarjo yang semakin kuat ngentot kemaluanku membuat susu-susuku tergoncang-goncang seperti terlanda gempa bumi. Aku merasa kehausan yang amat sangat. Aku minta Tarjo menciumi bibirku. Kami saling melumat dengan ganas yang disebabkan gelombang dahsyat yang menerpa birahi kami. Dan kini aku merasa seluruh urat dan otot-otot tubuhku meregang. Aku merasa ada desakkan kuat yang harus meledak keluar dari dalam tubuhku. Dan kemudian aku merasakan aliran stroom jutaan watt hadir mengawali muncratnya cairan birahiku dari dalam kemaluanku. Aku merasakan kenikmatan yang dahsyat saat orgasmeku datang. Mataku membeliak-beliak menahan dera nikmat. Aku gigit pundak Tarjo hingga terluka.

Aku belum pernah mendapatkan pengalaman nikmat macam ini selama perkawinanku dengan Mas Dibyo. Aku menjadi buas dan kehilangan perasaan malu. Aku meracau dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang sangat seronok dan kotor yang seharusnya tidak keluar dari mulutku. Aku terdorong oleh nafsu birahiku yang menggelegak hebat mengucapkan nikmat luar biasa sambil merintih. Dan berbareng dengan itu, Tarjo yang seperti orang gila semakin keras dan cepatnya memompa nonokku hingga kudengar suara bijih pelirnya yang memukul-mukul bawah nonokku. Tarjo menyusul menyemprotkan air maninya yang sangat panas ke dalam memekku. Aku tak bisa bayangkan lagi betapa kuyupnya lubang kemaluanku. Air mani dan cairan birahiku membusa meleleh keluar menyertai keluar masuknya pompaan kontol Tarjo. Dan akhirnya semua berhenti.

Sepertinya Tarjo lunglai menindih tubuhku dengan keringatnya yang mengalir deras dari tubuhnya, tetapi wajahnya yang juga basah yang nyungsep di belahan dadaku bibirnya masih pelan mengenyoti payudaraku dan kontolnya yang terendam basah masih kurasakan tegang kaku dalam rongga kemaluanku. Walaupun terus terang aku mendapatkan kenikmatan seksual yang hebat dari paksaan Tardjo tapi demi gengsiku kutolak tubuh Tardjo dari tubuhku, aku ingin dia cepat menyingkir dari aku. Tetapi apa kata dia,
"Bu Dibyo, kemaluan ibu seperti kemaluan perawan, sangat sempit dan sangat nikmat. Kontolku belum puas, Bu. Aku mau lagi. Aku mau ibu melayani aku lebih baik lagi. Aku pengin ngentot ibu lagi. Aku mau ibu menjilati kontolku sebelum kumasukkan ke nonok ibu lagi".
Edan kau Tardjoo.. Omonganmu sama sekali menghinaku. Kamu anggap apa aku ini? Memangnya aku tempat pelampiasan nafsu binatangmu? Memangnya aku budakmu? Pergi kau Tardjoo.. Pergi..!!, demikian aku berteriak padanya.

Ke bagian 3

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar